Sabtu, 13 Oktober 2012

Psikologi Faal (pengantar aerotymponal dan cranio tymponal)


LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI FAAL

Nama Mahasiswa                : Fadilah Luthfiana
Nomor Mahasiswa              : 10181042
Nama Percobaan                 : Penghantar Aerotymponal dan Craniotymponal
Nomor Percobaan               : VII
Nama Pelaku Percobaan     : Fadilah Luthfiana
Nama Orang Percobaan      : Fadilah Luthfiana
Tanggal Percobaan              : 19 Desember 2011
Tempat Percobaan               : Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas
                                             Bina Darma Palembang



I. TUJUAN PERCOBAAN
Untuk membuktikan adanya penghantaran aerotymponal dan craniotymponal pad pendengaran manusia.

II. DASAR TEORI
            Reseptor pendengaran atau fotoreseptor dan keseimbangam terdapat didalam telinga. reseptor ini berupa sel-sel berbentuk rambut. Fungsi sel rambut dalah menerima rangsangan yang berupa getaran dan mengubahnya menjadi impuls sensorik dan selanjutnya di transmisikan ke pusat pendengaran di otak. Telinga manusia terdiri dari 3 bagian yaitu :
  1. Telinga Luar
terdiri dari daun telinga, saluran telinga luar dan bagian yang berbatasan dengan telinga tengah atau disebut juga membran timpani (gendang telinga)
  1. Telinga Tengah
berupa rongga kecil yang berisi udara, terletak didalm tulang pelipis dan dindingnya dilapisi sel epitel. Didalam rongga telinga tengah terdapat tiga tulang yaitu tulang martil, tulang landasan dan tulang sanggurdi. Ketiga tulang itu saling berhubungan melalui sendi yang bergerak bebas. Kearah depan telinga tengah dihubungkan dengan tenggorokan oleh saluran (tuba) esutachius. Saluran ini berfungsi menyeimbangkan tekanan udara pada telinga luar dengan telinga tengah.
  1. Telinga Dalam
terdiri dari labirin osea dan labirin membranasea. Labirin osea adalah serangkaian rongga pada tulang pelipis yang dilapisi periosteum berisi cairan perilimfe. Sedangkan labirin membranasea memiliki bentuk yang sama dengan labirin osea, tetapi terletak dibagian yang lebih dalam dan dilapisi sel epitel serta berisi cairan endolimfe. Labririn osea terdiri dari tiga bagian yaitu kanalis semisirkularis (saluran setengah lingkaran), vestitula, dan koklea. Kanalis semisir kularis dan vestibula mengandung reseptor pendengaran.
            Struktur koklea merupakan saluran spiral yang menyerupai rumah siput tempat beradanya alat korti. Koklea ini terbagi atas tiga daerah yaitu :
-          Skala Vestibuli terletak dibagian dorsal (atas)
-          Skala Media terletak dibagian tengah
-          Skala Timpani terletak dibagian ventral
Saluran pada koklea berisi ciran dan permukaan dalamnya merupakan tempat bermuaranya ujung saraf yang amat peka terhadap getaran yang ditimbulkan oleh cairan. Semua ujung saraf menyatu membentuk saraf pendengaran, yang menghubungkan koklea dengan otak. Saluran selung terdiri atas tiga saluran yang saling terkait, saluran ini berperan dalam menjaga keseimbangan.


 








            Telinga sebagai Indera Keseimbangan
            Indera keseimbangan merupakan indera khusus yang terletak di dalam telinga. Indera keseimbangan secara struktural terletak dekat indera pendengaran, yaitu dibagian belakang telinga dalam yang menbentuk struktur utrikulus dan sakulus, serta kanalis semisirkualis. Struktur tersebut berfungsi dalam pengaturan keseimbangan dari saraf otak. Dengan demikian, saraf otak mengandung dua komponen yaitu komponen pendengaran dan komponen keseimbangan. Bila suatu objek bergetar maka akan timbul suara. Getaran objek tersebut akan ikut menggetarkan molekul udara sehingga timbul lah gelombang suara. Bila gelombang sampai ditelinga makan akan masuk melalui telinga luar terus melalui saluran pendengaran akhir nya sampai membran timpani. Hal ini akan menggetarkan membran timpani, terus ke tulang martil, landasan, dan sanggurdi.   Dari sanggurdi getaran suara dilanjutkan ke tingkap bundar atau bulat. Getaran ini ikut menggetarkan cairan pada rumah siput. Bila cairan pada rumah siput bergetar akan menstimuli ujung saraf. Impuls dari ujung saraf ini diteruskan ke pusat saraf pendengaran di otak. Otak besar akan memproses dan menerjemahkan daan timbullah persepsi udara.
            Mekanisme Transmisi Pendengaran , suara dari luar dapat sampai pada alat korti dalam skala media melalui berbagai proses, yaitu penghantaran suara da penghantaran tulang.

            Gangguan Pendengaran
            Bentuk gangguan pendengaran adalah tuli dan kurang pendengaran. Tuli dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tuli konduktif dan tuli saraf. Tuli konduktif yaitu tuli karena gangguan transmisi suara kedalam koklea. Penyebabnya antara lain kerusakkan tulang pendengaran, kotoran yang menumpuk didalam saluran telinga luar, atau peradangan telinga tengah. Tuli saraf terjadi jika ada kerusakan pada organon korti saraf ataupun korteks otak daerah pendengaran

III. ALAT YANG DIGUNAKAN
1. Garputala
2. Arloji
3. Meteran



III.   JALANNYA PERCOBAAN
1.                Percobaan-percobaan dari Rine
a.                   Oleh PP suatu garputala yang sedang bergetar ditempatkan dengan tangkainya pada puncak kepala sampai nadanya tidak terdengar lagi. Kemudian garputala diletakkan dimuka lubang telinga PP.
b.                  PP mengambil sebuah garputal yang sedang bergetar dan ditempatkan dengan tangkainya pada tulang dibelakang daun telinga hingga suara tidak terdengar lagi. Kemudian garputala diletakkan dimuka lubang telinga.
2.                Percobaan dari Weber
Suatu garputala yang sedang bergetar ditempatkan dengan tangkainya pada puncak kepala PP, kemudian satu lubang telinganya ditutup.
3.             Pemeriksa Ketajaman Pendengaran
Sebuah arloji diletakkan dimuka lubang telinga sebelah kanan dari OP, secara perlahan arloji dijauhkan dari lubang telinga hingga suara tidak terdengar lagi. Ukurlah jarak antara lubang telinga dengan arloji saat suara arloji tidak terdengar. Setelah itu arloji perlahan didekatkan kembali hingga suara terdengar. Ukurlah jarak antara arloji dengan lubang telinga dititik arloji terdengar. Lanjutkan pada telinga yang sebelahnya.

IV.             HASIL PERCOBAAN
1.      Percobaan-percobaan dari Rine
a.         Setelah PP meletakkan garputala yang sedang bergetar pada puncak kepala PP, kemudian garputala diletakkan dimuka lubang telinga PP maka hantaran suaranya kurang jelas.
b.         Setelah PP meletakkan garputala yang sedang bergetar pada tulang dibelakang telinga, kemudian garputala diletakkan dimuka lubang telinga maka hantaran suara dan getarannya terdengar lebih jelas dari percobaan pertama.
2.      Percobaan dari Weber
Garputala yang sedang bergetar diletakkan dengan tangkainya pada puncak kepala PP, kemudian satu lubang telinga PP ditutup menghasilkan suara dan getaran yang lebih jelas.
3.      Pemeriksa Ketajaman Pendengaran
a.                Percobaan dengan telinga kanan
- Ketika arloji didekatkan ke lubang telinga sampai suaranya tidak terdengar lagi, maka jarak antara arloji dengan lubang telinga adalah 270 cm.
- Ketika arloji didekatkan ke lubang telinga sampai suaranya  terdengar lagi, maka jarak antara arloji dengan lubang telinga adalah 155 cm.
b.  Percobaan dengan telinga kiri
- Ketika arloji didekatkan ke lubang telinga sampai suaranya tidak terdengar lagi, maka jarak antara arloji dengan lubang telinga adalah 150 cm.
- Ketika arloji didekatkan ke lubang telinga sampai suaranya  terdengar lagi, maka jarak antara arloji dengan lubang telinga adalah 90 cm.

VI. KESIMPULAN
            Dari hasil percobaan-percobaan yang telah dilakukan ,diperoleh hasil bahwa suara yang dihasilkan dari garputala berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan oleh karena proses hantaran nya menggunakan mediun yang berbeda-beda pula. Ada yang menggunakan mediun udara (aerotymponal), dan ada yang menggunakan tulang (craniotymponal). Hantaran melalui tulang lebih terdengar jelas dibandingkan dengan udara. Adapun ketajaman pendengaran antara telinga kanan dan kiri tidak selalu sama.



Palembang, 19 Desember 2011
                                                                                                                             
                                 Praktikan                 


                                                                                                                             Fadilah Luthfiana

DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, Diah, dkk. 2003. Biologi untuk kelas 2 SMU. Jakarta: Esis

Pujianto, Sri. 2008.  Menjelajah Dunia Biologi 2. Jakarta: Tiga Serangkai.

M.W, Stefanus. 2010. Laporan Praktikum Psikologi Faal. Palembang:        Universitas Bina          Darma

Syaifuddin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2.         Jakarta: Salemba Medika

Jumat, 12 Oktober 2012

psikologi Faal (gerak refleks)


LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI FAAL

Nama Mahasiswa                    : Fadilah Luthfiana
Nomor Mahasiswa                  : 10181042
Nama Percobaan                     : Gerakan-gerakan refleks
Nomor Percobaan                   : XI
Nama Pelaku Percobaan         : Fadilah Luthfiana
Nama Orang Percobaan          : Arimita Sari
Tanggal Percobaan                  : 19 Desember 2011
Tempat Percobaan                   : Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas
                                                  Bina Darma Palembang


I. TUJUAN PERCOBAAN
            Untuk membuktikan adanya gerakan-gerakan reflek urat pada manusia.

II. DASAR TEORI
            Gerakan umumnya terjadi secara sadar dan tidak sadar. Gerakan yang sadar melalui jalan yang panjang. Gerakan reflek ialah hasil stimulasi sel motorik oleh stimulus yang dibawa oleh neuron aferen dari jaringan. Gerakan reflek juga merupakan gerakan yang terjadi secara tiba-tiba di luar kesadaran.
           
            Penyebab timbulnya gerakan reflek:
1. Terkena benda yang panas
2. Tersentuh benda yang panas
3. Karena suatu peristiwa
4. Terkena benda tajam
            Reflek terdiri dari:
1. Reflek flekson  (reflek perlindungan): penarikan kembali tangan secara reflek dari rangsangan yang berbahaya
2. Reflek ekstenson: rangsangan dari resptor perifer yang mulai dari fleksi pada anggota badan dan juga berkiaitan dengan eksistensi anggota badan
            Mekanisme gerak reflek:
            Gerak reflek terjadi sangat cepat. Tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan tanpa memerlukan kontrol dari otak. Contoh: berkedip, bersin, batuk, dan lain-lain.
            Implus dimulai dari reseptor penerima rangsangan. Dilanjutkan menuju ke saraf sensori ke pusat saraf. Kemudian, implus diterima oleh saraf penghubung tanpa diolah di dalam otak. Langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot dan kelenjar. Jalan pintas dalam gerakan reflek ini disebut dengan lengkung reflek.
            Jalur gerak reflek dibentuk oleh neuron sensorik, interneuron, dan neuron motorik yang mengalurkan implus saraf untuk tipe reflek tertentu. Gerak reflek yang paling sederhana hanya memerlukan dua tipe sel, yaitu neuron sensori dan neuron motori.
            Dalam melakukan gerak, tubuh banyak melakukan koordinasi dengan organ tubuh yang lain. ini menunjukkan adanya kerjasama antara berbagai bagian tubuh dalam menjalankan fungsinya. Kita dapat bayangkan diri kita berada dalam sebuah lorong yang gelap, semua indera pun akan siap siaga. Telinga akan mendengar sesuatu sehalus apa pun, kemudian jika tubuh menabrak sesuatu, maka akan terjadi gerakan reflek seperti berteriak atau melompat. Begitulah contoh gerak reflek yang terjadi.

III. ALAT YANG DIGUNAKAN
1. Martil Reflek

IV. JALANNYA PERCOBAAN
1. Reflek-reflek urat
a. Orang percobaan disuruh duduk di tepi meja dengan tungkai di bawah tergantung, kemudian urat di bawah tempurung lutut dipukul dengan  martil reflek oleh PP.
b. Orang percobaan disuruh berdiri, satu tungkai diletakkan dengan tulang kering pada kursi dengan kaki tergantung pada kursi. Kemudian, di atas tumit dipukul dengan martil reflek.

V. HASIL PERCOBAAN
1. Reflek-reflek urat
a. Orang percobaan disuruh duduk di tepi meja dengan tungkai di bawah tergantung, kemudian urat di bawah tempurung lutut dipukul dengan  martil reflek oleh PP. Hasilnya, setelah urat di bawah tempurung dipukul, kaki secara reflek menendang.
b. Orang percobaan disuruh berdiri, satu tungkai diletakkan dengan tulang kering pada kursi dengan kaki tergantung pada kursi. Kemudian, di atas tumit dipukul dengan martil reflek. Hasilnya, tumit yang dipukul tersebut secara reflek bergerak mengangkat ke atas.

VI. KESIMPULAN
            Gerakan reflek adalah gerakan yang dilakukan tanpa sadar dan merupakan respon segera setelah adanya rangsangan.
            Gerakan reflek disebabkan oleh adanya rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Misal, bila kaki menginjak paku, secara otomatis kita akan menarik kaki dan berteriak.
            Gerakan reflek terjadi bila rangsangan yang diterima oleh saraf sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara. Hal ini beda sekali dengan mekanisme gerak biasa. Bila gerak biasa, rangsangan akan diterima oleh saraf sensori à disampaikan ke otak à dikeluarkan perintah ke saraf motori à gerakan.
            Gerakan reflek dapat digunakan paa pemeriksaan neurologis untuk mengetahui kerusakan atau pemfungsian dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Gerak raga atau pengaitan dari rangsang oleh reaksi otomatis selama pengkondisian klasikal.




Palembang, 12 Desember 2011
                                                                                                                            Praktikan



                                                                                                                         Fadilah Luthfiana














Daftar Pustaka
Oktaviana, Rina. 2006. Psikologi Faal. Palembang: Universitas Bina Darma

M.W, Stefanus. 2010. Laporan Praktikum Psikologi Faal. Palembang:        Universitas      Bina Darma